Sabtu, 25 Februari 2012 2 komentar

ALASAN!


Waktu berlalu tanpa berbicara kepadaku, seolah ia datang dan pergi tanpa permisi, baru kurasa pagi, sekarang sudah petang kembali. Semua berlalu begitu cepat. Membawaku pada hari yang selalu kualami dengan begini dan begini. Bosaaannn!!! Aku sangat bosan! Tapi aku berhenti sejenak. Berhenti untuk mengatakan bosan!
Senin, 20 Februari 2012 1 komentar

Fighting!!!


Mulai hari dengan keceriaan, senyuman dan semangat baru. 

Tak ada kelesuan dan tak ada kata “ah, ih uh, eh , oh..” . 

pantang untuk malas dan tak berdaya guna. Jadikan hari ini sebagai hari yang produktif. Jadikan hari ini sebagai awal dari sebuah kesuksesan yang selalu terhambat sejak kemarin. 

Mulai hari dengan keoptimisan dan hilangkan semua kekhawatiran dalam hati, hilangkan ketakutan dalam diri.

 Yang pasti hari ini adalah harimu, hari yang harus kau ukir prestasi dan ibadah sekuat tenagamu.
Coba untuk tetap focus pada target-targetmu, tujuanmu. 

Jangan terprovokasi oleh factor external  yang seringkali menghalangimu untuk maju.

 Ayo! Kamu pasti mampu. Kerjakan semua amanahmu, kerjaanmu dengan penuh tanggung jawab . 

cepat selesaikan dan mulai kembali mengukir karya-karya baru yang sejak kemarin tlah menunggumu untuk menggarapnya. 

Come on! Hurry up. Tersenyumlah! Optimis dengan hari yang masih Allah berikan kepadamu. 

Optimis bahwa Allah akan menolongmu. 

Jangan pernah berkecil hati dan rendah diri. Jadikan dirimu berprestasi, dan niatkan hanya karena illahi robbi.

Keep Spirit kawan!!! Fighting!!!^_^
Minggu, 19 Februari 2012 0 komentar

sahabat

salahkah jika aku mengatakan bahwa aku gembira?
salahkah jika aku memberi tahumu bahwa aku sedang bersedih?
yah, mungkin memang kesalahanku yang tak mampu menyimpan emosiku

kau katakan
' syukuri saja lah! kalo dikit ngeluh, lah itu dapet banyak, ngomong...'

ah, kau salah paham.
hanya niatku untuk memberitahumu bahwa aku sedang bahagia
tapi kau katakan begitu, ya sudah.
mungkin aku terlalu banyak cakap di matamu.
tapi terima kasih.
kau telah beritahuku, bahwa tak perlu aku mengeluh ketika ku sedih.
dan tak perlu aku bergembira, berkoar kemana-mana ketika aku gembira.
aku tak perlu memberitahumu lagi. :)
aku mengerti
terima kasih telah memberi tahuku untuk bersikap dimatamu, sahabat.
Selasa, 31 Januari 2012 0 komentar

Rambut Gondrong Iwan


Mbok Yao kamu potong rambutmu to, Nang…..” Ucap Bu Suti , ibu kantin pesantren melirik pada Iwan.

Iwan hanya tersenyum sembari memegang rambut gondrong kesayangannya.  Tak terlalu gondrong seperti Ki Joko Bodho memang. Hanya ikal dan sepundak panjangnya. Tak terlalu acak2an juga sebenarnya, namun Bu Suti risih melihatnya.

“Ntar kamu dianggap preman loh…” Lanjut Bu Suti sambil menyuguhkan bakso pesanan Iwan.
“Ya ndak papa to Bu… yang penting kan hatinya….hehehe,”  ujar Iwan sambil  menuangkan sambal dan kecap ke dalam semangkuk baksonya.

“Bukan begitu nang…
Senin, 30 Januari 2012 0 komentar

Allah,


Allah punya banyak cara untuk menyayangiku.
 Allah mempunyai rencana yang luar biasa untukku.
 Allah memberi semua yang aku butuhkan.


Dialah yang tak pernah tidur ketika aku terlelap,
Dialah yang tak pernah lelah mendengar semua keluh dan kesahku yang lemah.
Dialah yang selalu terjaga menaungiku dengan rahmatNya.
Dan Dialah yang mampu membuat mimpiku  menjadi nyata.
Minggu, 29 Januari 2012 0 komentar

Sederhana saja....


Sederhana saja. Jika kau inginkan dunia, dunia akan kau dapati. 

 Tapi bersiap saja, di akhirat kau akan menyesali. 

Berpikir sebelum bertindak atau bertindak baru berpikir? Mendengar atau mengabaikan bisikan nafsu?… itu adalah pilihan bagi hatimu.  Hanya akan ada 2 cerita setelahnya. Pertama,  Tersiksa menahan diri  karena berusaha sekuat hati menolak bujukan syaitan untuk sementara. Kedua menyesal di akhir karena tak mampu tuk sedikit bersabar melawan nafsu diri.  Itulah konsekuensi dari sebuah pilihan. Kebahagiaan apa yang akan kau dapatkan? semukah? Sejatikah?
Jumat, 27 Januari 2012 0 komentar

Jangan bentak anakmu, bu....


Langsung kukemasi barangku dan bersiap untuk melabrak ibu itu. entahlah, akupun tak tahu siapa ibu diluar yang sedang membentak anaknya sedemikian kerasnya sampai terdengar ke ruang kerjaku. Yang jelas, aku sangat terganggu. Ketika gagang pintu telah kupegang, mendadak kepalaku berputar seolah aku baru saja bangun dari tidur lelapku, harus mengumpulkan nyawaku. Ternyata memang benar aku bangun dari mimpiku. Tapi mimpiku tak sepenuhnya dalam hayal mimpiku. Itu nyata LOH... !!!

Teh Juju dan Anggun masih terjaga ketika aku bangun dari tidurku. Mereka belum mengatupkan matanya sedikitpun. Anggun masih asyik memainkan game di hapenya. Sedangkan teh Juju masih asyik menonton film. Tapi mereka pun mendengar apa yang aku dengar. Kali ini bukan mimpi. Ini adalah kejadian nyata. Suara berisik itu berasal dari rumah tetangga. 

“Tiap malem itu mah, ga Cuma ibunya teh, tapi bapak dan kakaknya juga ikutan membentaknya, abi jadi penasaran…. ” Anggun beranjak dari tempat tidurnya dan mengintip dari balkon kosan kita. Karena gelap dan tertutup tirai bamboo pula, dari arah bawah  rumah ibu tetangga itu kayaknya sih takkan kelihatan. Tapi harus hati-hati juga. Teh Juju mengikuti di belakang. 

“Woi, Yang bener donk. Gimana sih? Gue udah bilang kan sama elo kemaren!” 

Suara seorang gadis yang tak lain adalah kakak dari bocah itu pun terdengar, pelak. Sekarang sangat jelas terdengar bahkan sangat keras. 

“Brak…” 

Terdengar suara pintu dibanting. Gadis itu keluar pintu rumah. Bersamaan itu pula Anggun dan Teh Juju menarik sedikit tubuhnya ke belakang. Takut ketahuan. 

“Mau kemana dia teh?” aku yang sedari tadi masih mengumpulkan nyawa alias setengah bangun hanya memperhatikan tingkah kedua temanku itu. 

“Paling juga kembali jualan di warung ayam bakarnya.” Kata Anggun sembari kembali berbaring dan melanjutkan permainan di hapenya yang tadi sempat tertunda. 

“Mereka jualan sampai malam, dan sekitar jam segini mereka baru kumpul di rumah. Hampir tiap hari aku mendengar anak kecil itu jadi sasaran amarah satu keluarga itu. kadang-kadang bapak dan ibunya sendiri yang bertengkar. Membuatku bertambah tak bisa tidur, teh…” keluh Anggun.

“Aku tak habis pikir. Ada yah keluarga seperti itu. ibu dan bapaknya bertengkar. Ibu, kakak, dan bapaknya sekaligus memarahi anak yang baru berumur 5 tahun! Anak yang belum tahu apa-apa! Sungguh tega. ckckckc…” aku berdecak.

Anggun hanya mengangkat bahunya saja, sedangkan Teh Juju mengangguk-angguk menyetujui perkataanku. 

“Kasian anak kecil itu fah… senakal apapun anak itu, memarahinya hanya membuat mental anak itu menjadi tak baik nantinya. Juju nggak mau jadi ibu seperti itu….” Teh Juju bergidik membayangkannya.

“Sebenarnya kasus ini kalau di bawa ke hukum sudah termasuk tindak penganiayaan anak di bawah umur. Atau kalau enggak kita laporkan ke komisi perlindungan anak. Kak seto pasti bisa bertindak…” Aku memandangi teh Juju.

“Hayu fah, kita laporin ajah….” Teh Juju tersenyum mengajakku melaksanakan idenya. 

“Tapi teh, bukannya aku nggak kasihan sama anak itu. Pertama, kita hanya pendatang disini, bisa fatal kalau tidak berhati-hati dalam bersikap. Kedua kita belum punya cukup bukti untuk membawa kasus ini ke meja hijau teh… ketiga, teteh tahukan hukum di Indonesia seperti apa? …  kubilang sih bisa-bisa kita yang nantinya di seret ke penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik, itu pasti terjadi kalau kita tak punya cukup saksi dan “money”. Fiuuuh….aku juga serba salah teh. Kedzaliman jelas-jelas di depan mata kita, tapi aku sendiri belum punya cukup keberanian untuk itu. gimana donk teh? Apa kita laporin aja ke Ummi dulu, trus ke kelurahan?” ucapku.

“Entahlah fah… Juju juga bingung.” Ucap teh Juju lesu. 

Anggun hanya diam. Tak banyak bicara ia. Tapi dia pun risih setiap malam harus mendengarkan semua itu.

Malam itu berakhir dengan ketidakjelasan. Kebingungan akan bersikap. 

Ya Allah…maafkan kami..belum cukup berani untuk ini. 

“Ketika engkau melihat kedzaliman di depan matamu, maka cegahlah dengan tanganmu, jika tak bisa cegahlah dengan lisanmu, jika itupun tak mampu maka berdoalah, doakanlah dia. Itu adalah selemah-lemahnya iman.”

Maaf Allah. Iman ku masih sangat lemah…T.T

harus bagaimana?

 
;