Jumat, 27 Januari 2012

Jangan bentak anakmu, bu....


Langsung kukemasi barangku dan bersiap untuk melabrak ibu itu. entahlah, akupun tak tahu siapa ibu diluar yang sedang membentak anaknya sedemikian kerasnya sampai terdengar ke ruang kerjaku. Yang jelas, aku sangat terganggu. Ketika gagang pintu telah kupegang, mendadak kepalaku berputar seolah aku baru saja bangun dari tidur lelapku, harus mengumpulkan nyawaku. Ternyata memang benar aku bangun dari mimpiku. Tapi mimpiku tak sepenuhnya dalam hayal mimpiku. Itu nyata LOH... !!!

Teh Juju dan Anggun masih terjaga ketika aku bangun dari tidurku. Mereka belum mengatupkan matanya sedikitpun. Anggun masih asyik memainkan game di hapenya. Sedangkan teh Juju masih asyik menonton film. Tapi mereka pun mendengar apa yang aku dengar. Kali ini bukan mimpi. Ini adalah kejadian nyata. Suara berisik itu berasal dari rumah tetangga. 

“Tiap malem itu mah, ga Cuma ibunya teh, tapi bapak dan kakaknya juga ikutan membentaknya, abi jadi penasaran…. ” Anggun beranjak dari tempat tidurnya dan mengintip dari balkon kosan kita. Karena gelap dan tertutup tirai bamboo pula, dari arah bawah  rumah ibu tetangga itu kayaknya sih takkan kelihatan. Tapi harus hati-hati juga. Teh Juju mengikuti di belakang. 

“Woi, Yang bener donk. Gimana sih? Gue udah bilang kan sama elo kemaren!” 

Suara seorang gadis yang tak lain adalah kakak dari bocah itu pun terdengar, pelak. Sekarang sangat jelas terdengar bahkan sangat keras. 

“Brak…” 

Terdengar suara pintu dibanting. Gadis itu keluar pintu rumah. Bersamaan itu pula Anggun dan Teh Juju menarik sedikit tubuhnya ke belakang. Takut ketahuan. 

“Mau kemana dia teh?” aku yang sedari tadi masih mengumpulkan nyawa alias setengah bangun hanya memperhatikan tingkah kedua temanku itu. 

“Paling juga kembali jualan di warung ayam bakarnya.” Kata Anggun sembari kembali berbaring dan melanjutkan permainan di hapenya yang tadi sempat tertunda. 

“Mereka jualan sampai malam, dan sekitar jam segini mereka baru kumpul di rumah. Hampir tiap hari aku mendengar anak kecil itu jadi sasaran amarah satu keluarga itu. kadang-kadang bapak dan ibunya sendiri yang bertengkar. Membuatku bertambah tak bisa tidur, teh…” keluh Anggun.

“Aku tak habis pikir. Ada yah keluarga seperti itu. ibu dan bapaknya bertengkar. Ibu, kakak, dan bapaknya sekaligus memarahi anak yang baru berumur 5 tahun! Anak yang belum tahu apa-apa! Sungguh tega. ckckckc…” aku berdecak.

Anggun hanya mengangkat bahunya saja, sedangkan Teh Juju mengangguk-angguk menyetujui perkataanku. 

“Kasian anak kecil itu fah… senakal apapun anak itu, memarahinya hanya membuat mental anak itu menjadi tak baik nantinya. Juju nggak mau jadi ibu seperti itu….” Teh Juju bergidik membayangkannya.

“Sebenarnya kasus ini kalau di bawa ke hukum sudah termasuk tindak penganiayaan anak di bawah umur. Atau kalau enggak kita laporkan ke komisi perlindungan anak. Kak seto pasti bisa bertindak…” Aku memandangi teh Juju.

“Hayu fah, kita laporin ajah….” Teh Juju tersenyum mengajakku melaksanakan idenya. 

“Tapi teh, bukannya aku nggak kasihan sama anak itu. Pertama, kita hanya pendatang disini, bisa fatal kalau tidak berhati-hati dalam bersikap. Kedua kita belum punya cukup bukti untuk membawa kasus ini ke meja hijau teh… ketiga, teteh tahukan hukum di Indonesia seperti apa? …  kubilang sih bisa-bisa kita yang nantinya di seret ke penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik, itu pasti terjadi kalau kita tak punya cukup saksi dan “money”. Fiuuuh….aku juga serba salah teh. Kedzaliman jelas-jelas di depan mata kita, tapi aku sendiri belum punya cukup keberanian untuk itu. gimana donk teh? Apa kita laporin aja ke Ummi dulu, trus ke kelurahan?” ucapku.

“Entahlah fah… Juju juga bingung.” Ucap teh Juju lesu. 

Anggun hanya diam. Tak banyak bicara ia. Tapi dia pun risih setiap malam harus mendengarkan semua itu.

Malam itu berakhir dengan ketidakjelasan. Kebingungan akan bersikap. 

Ya Allah…maafkan kami..belum cukup berani untuk ini. 

“Ketika engkau melihat kedzaliman di depan matamu, maka cegahlah dengan tanganmu, jika tak bisa cegahlah dengan lisanmu, jika itupun tak mampu maka berdoalah, doakanlah dia. Itu adalah selemah-lemahnya iman.”

Maaf Allah. Iman ku masih sangat lemah…T.T

harus bagaimana?

0 komentar:

Posting Komentar

 
;