Jumat, 05 Oktober 2012

Syukur Syukur dan Terus Bersyukur.


Di suatu kantor yang megah, sore itu dari kepala-kepala manusia yang mempunyai profesi berbeda masing-masing mempunyai pemikiran yang berbeda, prasangka yang berbeda pula. 

Di dalam gedung lantai 2 dengan setumpuk pekerjaan berada disampingnya, Didi mulai bosan , mulai stress dengan pekerjaan,  jika disamakan dengan komputer mungkin sudah hang sejak 15 menit yang lalu.  Lelaki paruh baya itu duduk menghadap kaca dan memandang keluar jendela, memandang seorang tukang bangunan yang sedang merenovasi tembok bagian luar gedung kantornya. Ia berbisik dalam hati , ‘Enak ya kayaknya jadi orang itu, dia hanya menggunakan tenaganya untuk bekerja, ia tak perlu susah payah untuk menghitung uang, ia tak perlu susah payah untuk mengecek data, ia tak perlu menggunakan pikirannya untuk bekerja, cukup dengan tenaganya, selesai. Tak perlu lagi pusing-pusing seperti saya.Fuh.....’ 

Sementara di luar gedung, Darto, kuli bangunan yang sedang diperhatikan oleh Didi itupun berhenti sejenak, menghela nafas panjang setelah seharian mengaduk semen dan dengan hati-hati menempelkan satu persatu keramik hitam di tembok yang sudah mulai usang itu. Capek rasanya. Seketika muncul bayangan dalam benaknya ketika melihat orang-orang berdasi yang hilir mudik dihadapannya. Bayangan tentang bagaimana orang-orang berdasi dan memakai blazer dengan nyamannya bekerja, hanya tinggal duduk di depan laptop dan mengetik satu dua huruf, hanya tinggal berbicara kesana kemari, sudah dapat uang banyak. ‘Sungguh beruntungnya mereka. Tak perlu capek dan lelah sebagaimana pekerja kasar sepertiku. Tak perlu berpanas-panas dan kotor seperti diriku....andai aku jadi mereka...enak kayaknya...’

Itulah sedikit gambaran manusia. Seringkali merasa dirinyalah yang paling sengsara. Merasa bahwa dirinya tak seberuntung orang-orang yang ada di sekitarnya. Seringkali tak mensyukuri apa yang telah mereka miliki. Ya, Itulah manusia. Yang kerjanya sering mengeluh dan mengeluh. Seringkali bukan malah memandang rumput sendiri lebih hijau dari pada rumput tetangga, itulah manusia. Yang tak pernah puas dengan apa yang dicapainya, apa yang dimilikinya. Manusia. Ya, itu hanya gambaran sebagian orang saja, semoga itu bukanlah gambaran diri kita.
Ingat kawan, karena bersyukur adalah sebuah kenikmatan, kenikmatan yang tak pernah bisa dirasakan oleh orang yang tak pernah puas menjalani hidupnya, orang yang seringkali mengeluh tanpa memeras peluh untuk mencapai yang diinginkannya. Orang yang ingin segalanya tercapai dengan instan... Ah!! Mana ada kawan! Mie instan saja harus dimasak sekian menit untuk menikmatinya, apalagi kesuksesan. Tapi yakinlah kawan, bahwa kenikmatan hidup seringkali tak didapat seiring dengan didapatkannya kesuksesan, kenikmatan hidup bisa kita dapatkan dengan bersyukur. Dan hanya orang-orang yang bersyukur yang mampu menikmati hidup, mampu memaknai hidup dengan caranya, dengan semua usaha dan doanya....
Syukuri apa yang kita dapatkan kini, karena belum tentu semua itu masih kita miliki di kemudian hari. Tersenyum dan ucapkan alhamdulillah atas apa yang kita dapati, hatimu akan lega, karena jika kau tahu di luar sana bahkan ada yang tak mampu tersenyum seperti kita.

So... Syukur syukur dan terus bersyukur.

1 komentar:

Irman Sulaeman mengatakan...

Keren dinda...terus berkarya..... ^_^
komen posting ini : Insya Allah ini akan menjadi motivasi untuk kita senantiasa bersyukur atas nikmatnya.... ^_^

Posting Komentar

 
;