Minggu, 29 Januari 2012

Sederhana saja....


Sederhana saja. Jika kau inginkan dunia, dunia akan kau dapati. 

 Tapi bersiap saja, di akhirat kau akan menyesali. 

Berpikir sebelum bertindak atau bertindak baru berpikir? Mendengar atau mengabaikan bisikan nafsu?… itu adalah pilihan bagi hatimu.  Hanya akan ada 2 cerita setelahnya. Pertama,  Tersiksa menahan diri  karena berusaha sekuat hati menolak bujukan syaitan untuk sementara. Kedua menyesal di akhir karena tak mampu tuk sedikit bersabar melawan nafsu diri.  Itulah konsekuensi dari sebuah pilihan. Kebahagiaan apa yang akan kau dapatkan? semukah? Sejatikah?


 Kebahagiaan semu akan kau dapatkan saat itu jika kau lebih memilih nafsu sebagai tambatan hati. Kebahagiaan sementara yang akan kau nikmati hanya tuk sesaat saja. Dan seiring waktu kau akan menyadari bahwa semua itu hanyalah sebuah gelembung sabun yang senantiasa hilang dalam satu kedipan mata. Itulah nafsu. Itulah dunia yang kau hadapi sekarang. Dunia penuh warna, yang jika tak hati-hati, kau akan melebur pada warna gelap yang diciptakannya. Sejenak saja. Berfikirlah. Melihat pada hati sendiri. Apakah mau kau di perbudak oleh nafsu? Tentu bisikan nuranimu berkata, “Tidak! Aku sama sekali tak mau!” 

Kebahagiaan sejati, meski terkadang harus melewati jalan yang tak mudah didaki. Meski kadang diri harus benar-benar kuat membentengi. Harus mengekang semua kehendak hati yang sebenarnya itu bukanlah hati tapi hanya seonggok nafsu yang sudah menempel erat pada hatimu. Meski harus melepas simpul-simpul syaitan yang sering membelenggu diri. Itu adalah satu satunya cara untuk meregup manisnya kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang akan lekat dan takkan hilang ditelan masa. Kebahagiaan dariNya untuk para hambaNya yang bertakwa.

Seringkali manusia berkata dengan fasihnya. “Aku yakin akan adanya surga dan neraka.” Tapi perilakunya? Sikapnya? Tutur katanya? Sama sekali tak menyuratkan semua nya.
“Aku yakin bahwa orang yang berdosa akan dimasukkan ke neraka, menelan buah zaqqum yang sama sekali tak enak rasanya. Meminum buliran nanah dan darah. Kobaran api senantiasa menyelimuti! Aku yakin itu…aku yakin….”

Tapi masih saja. Keyakinan itu tak dimaknai dengan hati. Keyakinan itu hanya dimulut saja. Seolah sebuah dongengan anak kecil sebelum tidur. Hanya sebuah dongeng anak untuk menakutinya agar secepatnya tidur terlelap. Kau sangka itu cerita bohongan? 

Aku yakin kau akan mengatakan, tidak! Tapi coba telaah lagi. Sudahkah anda mengatakan itu dengan hati? Sadarkah anda dengan satu persatu kata yang keluar dari mulut anda? 

Kalau memang jawabannya iya. Baguslah. Engkau masih memilikiNya. Manusia memanglah tak sempurna. Seringkali khilaf bertubi-tubi dilakoni. Taubat sambel seringkali tak disadari. Tapi Allah masih tetap tak sedikitpun mengurangi kasih sayangNya pada makhlukNya.  Kita manusia, sering tak punya hati tentang ini. Tak punya malu bahkan sering memungkiri. 

Sederhana saja. Kau hanya harus telaah dan terus telaah lagi. Akan hatimu. Fikirmu. Bisakah engkau jujur dengan diri sendiri. Bisakah engkau jujur pada hati. Karena hanya itu yang akan membuktikan semua kata yang keluar dari bibirmu. Karena hanya itu yang bisa menyelamatkanmu.
Sederhana saja. Hidup ini hanya untukNya. Beribadah kepadaNya.

Please!

 Jangan serahkan hidupmu pada dunia fana…

0 komentar:

Posting Komentar

 
;