Rabu, 18 Januari 2012

Tahun, kelabu



Bulir ini begitu hangat, menetes tak henti bagai deras hujan yang turun malam ini. Mengantarkanku pada memori masa lalu 2 tahun silam, saat kau masih berada di hadapanku, meski hanya sebagai teman.
***
Dingin. Mata itu begitu dingin. Tajam menatap siapapun lawan bicaranya. Menunjukkan betapa berprinsipnya dia. Menampilkan karakternya yang keras. Dengan memasukkan tangan ke dalam saku jaket hitamnya ia berjalan pelan. Menyusuri lorong kampus yang panjang. Sendiri. Tanpa teman. Tak perduli dengan kicauan orang sekitar, itulah dia. Dia dengan dunianya sendiri. Meski begitu ia sangat peduli terhadap pendidikan, terhadap agamanya, terhadap sahabat-sahabatnya. Tentunya dengan caranya sendiri.
***
“Ta, gantiin Gery magang ya…” suara Kak Pato mengagetkanku yang sedang asyik googling di lab internet.
“Ga mau! Tita kan udah magang dari tadi pagi kak, kenapa harus Tita yang gantiin Gery?” dengan ketus ku lancarkan pembelaanku tanpa menengok sedikitpun ke wajah kak Pato.
“Karena cuma kamu aja yang ada. Gery kuliah, Reni ngga tau kemana. Pokoknya harus ada yang magang! Kalo enggak kakak bilangin ke Bu Dea(supervisor).” Kali ini wajah kak Pato serius, aku tahu ia tidak main-main dengan perkataannya, tapi tetap saja aku merasa tak ada keadilan disini. Masa aku harus selalu stand by di front office kampus. Sedangkan jadwal magangku hanya 3 jam saja per hari. Ketika ku ganti pun aku yakin takkan ada bayaran pengganti. Huh!
“Nggak! Kenapa nggak kak Pato aja! Kenapa harus aku!?” aku berdiri dan mengalungkan tas ke bahu kananku.
“Ya, terserah kalo mau kena marah Bu Dea!” ucap kak Pato acuh sambil melirikkan matanya ke atas.
“Aku nggak perduli!” tatapku tajam pada kak Pato sambil bergegas pergi meninggalkan lab internet dengan wajah penuh kesal.
Aku berjalan cepat ke arah saung tempatku menyepi. Saung yang letaknya tak jauh dari kampusku. meski di dekat rolling door kanan kampus dan tepat di pinggir jalan. Saung ini tempat favorit anak-anak untuk menyendiri, setidaknya memisahkan diri dari keramaian. Karena takut ketahuan aku sedang marah dan hampir setetes demi setetes air jatuh dari mataku, aku keluarkan sebuah buku, hanya untuk alibi kalau-kalau ada yang bertanya aku sedang apa, aku jawab saja sedang belajar. Mudah kan?
“Huh, kenapa sih kak Pato nggak pernah ngerti perasaanku? Kenapa ia selalu saja menindasku? Padahal ada orang lain yang bisa menggantikannya magang, kenapa harus aku? huh!” bisikku bersungut-sungut.
Mataku menatap tajam ke depan. Entah kemana aku memandang, tak jelas. Aku hanya masih terpikir kata-kata kak Pato yang menyebalkan. Angin sejuk  tak membuatku lupa akan hal itu, yang ada aku hanya bisa menangis lirih.
“Kasihan bukunya kalo nggak di baca!” suara berat itu baru terdengar lagi. Suara Danu. Teman seangkatanku, meski jarang sekali aku bisa mengobrol dengannya. Tapi dia selalu muncul saat aku membutuhkannya. Meski begitu ia terkenal dingin, keras dan anti terhadap wanita. Itulah dia. Namun banyak sisi baik yang kutemukan dari dia, meski ku tak terlalu mengenalnya dekat.
Aku hanya menoleh sebentar, kulihat ia berdiri di rolling door dengan memasukkan tangan kanannya ke saku jaket hitamnya. Aku tolehkan lagi wajahku ke posisi semula.
 “Dibaca ko!” jawabku pendek.
Ia perlahan mendekat, duduk 1 meter di sampingku dengan posisi membelakangiku. Dan mendesah pelan.
“Hhh,,,,Jangan mudah marah, tahan emosimu…” ucapnya tenang.
“Jika kau terus menuruti emosimu dan meledakkan emosimu, tak baik untuk dirimu sendiri. Tak akan membawa manfaat untukmu juga, ta. Yah, meski akupun belum mampu mungkin untuk itu, tapi setidaknya aku tak ingin orang lain sama sepertiku.” Lanjutnya.
Ia lalu berdiri dan pergi begitu saja. Tanpa berkata-kata lagi.
“Kenapa dia tahu? Huh! Iya ya… aku harus bisa tahan emosiku.”
Hatiku sedikit lebih tenang. Tak ada lagi kebencian terhadap kak Pato. Yang ada sekarang hanya rasa kasihan terhadapnya, mungkin dia memang harus tanggung jawab terhadap anak magang di bawah naungannya. ‘hm..kasihan juga…’
Danu. Kenapa dia datang? Dia sangat misterius bagiku. Meski aku menyukainya, aku tak bisa untuk mengungkapkannya. Dia dengan hidupnya, dengan prinsipnya. Aku tak bisa ikut campur dan sedikitpun tahu tentangnya. Aku takut. Dia terlalu dingin dan keras untuk ku kenal lebih dekat.
***
Malam sudah mulai larut, aku dan Ina masih berada di rumah sakit untuk menjenguk Rita. Tiba-tiba datang 2 orang yang juga kukenal.
“Hei, Danu! Agung! Kalian kesini…” sapa Rita.
“Kau kesini juga, ta?” ucap Agung.
“Iya lah,,,,emang kenapa? Ga boleh?” ledekku sambil menjulurkan lidah.
“Huh, dasar kau!” ucap Agung.
Danu hanya diam, acuh.
Seseorang datang, tak kukenal.
“Oh, Roni…kau datang menjemputku?” tanya Ina. Ternyata sosok tak ku kenal itu kenal baik dengan Ina. Bahkan menjemputnya untuk pulang.
“Orang tuamu khawatir, jadi aku menjemputmu.” Ucap orang yang berperawakan tinggi besar itu.
Akhirnya Ina pergi meninggalkanku sendiri, hanya dengan Agung dan Danu. Ibu Rita yang sedari tadi menebus obat akhirnya kembali.
“Oh, akhirnya ibu kembali. Ibu, maaf ya kayaknya Tita harus undur diri sekarang, sudah malam.” Pamitku.
“Mengapa tak menginap saja, ta?” pinta ibu Rita.
“Iya, ta…menginap saja…sudah malam.” Sahut Rita.
Aku hanya menggelengkan kepala sembari memohon diri. Kulihat Agung dan Danu ikut mohon diri.
Aku berjalan sendiri di tengah temaram lampu rumah sakit. Menyusuri lorong-lorong panjang yang entah dimana ujungnya belum terlihat juga. Di belakangku Agung dan Danu berjalan seolah-olah seperti body guardku. Tapi aku tenang, ada mereka. Setidaknya sampai pintu rumah sakit ada yang menemaniku di belakang.
“Ta…” Agung memanggilku.
“Ayo, ikut!” pintanya.
“Mana Danu?”
“Dia pergi duluan.”
Aku tertunduk lesu menerima tawaran Agung, aku ingin berkata ‘mengapa kau yang datang, gung! Kenapa bukan Danu?’ tapi kutelan mentah-mentah. Jangan berharap ta! Kau dan Danu? Seperti langit dan bumi yang tak mungkin bisa untuk bersama. Entahlah. Aku terlalu lesu untuk memikirkannya. Aku tak mampu untuk mengerti seorang Danu. Apa yang ada di pikirannya dan sikapnya. Akupun tak mampu untuk menerka. Sudah bisa mengobrol dan menjadi teman, itu sudah suatu prestasi yang luar biasa dimataku. Aku tak ingin kehilangan itu.
Motor melaju kencang, menembus jalanan kota di malam yang terang dengan lampu jalanan yang tak pernah padam. Sedang pikiranku masih bertanya-tanya, bisakah? Bisakah aku berkata padanya bahwa aku cinta?
***
Aku terbangun mendengar suara ribut diluar, setengah sadar aku buka pintu kamarku.
“surprise…!!!”
“Met ultah ya…” semua sahabat-sahabatku ada disana, diluar kosanku.
“Kaliaaannn..….” ucapku terharu melihat teman-temanku datang, bukan hanya Ina dan Yeni, tapi Agung dan Danu pun datang.
“Eh, ta, bukannya ada lantai paling atas di kosanmu yah…kita ke atas yuk,,,kita bisa lihat kembang api...ultahmu kan bareng sama tahun baru…jadi kita ga usah repot2 ngerayainnya,,,,sekalian ajah…hahahah”  dengan menunjukkan jarinya keatas Ina mengutarakan idenya. Yang lain menyetujui.
“5, 4, 3, 2, 1……”
“doaaarr,,,,,,,,ciiiiiiu…” suara kembang api meletup dari sana sini.
Aku tersenyum melihat polah mereka. Ina dan Yeni Jingkrakan melihat kembang api, Agung meniup terompet, Danu? Aku sungguh terkejut dibuatnya. Kali ini aku baru pertama kali melihatnya tersenyum simpul seperti itu sambil meniup terompet bersama Agung. ‘Kau manis juga kalau tersenyum , Dan!’ batinku. Tiba-tiba Danu menoleh menatapku, tersenyum padaku. Ups! Dia sadar sedang kuperhatikan. Tapi ia kembali meniup terompetnya.
“Oke…sekarang waktunya potong kue…” Ina meletakkan kue tar di atas tikar. Karena di lantai 2 tak ada meja ataupun kursi akhirnya kita menggelar tikar. Yah, seperti bertamasya saja.
“Silakan ta, berdoa apa yang kamu inginkan di hari ulang tahunmu ini…” kata Ina.
Aku pejamkan mata, ku tengadahkan tangan seraya berdoa, berdoa apa yang sedang aku inginkan, berdoa semuanya akan baik-baik saja, seperti ini. Berdoa agar di kehidupan setelah mati kelak, Engkau pertemukan kembali aku dengan orang – orang yang aku sayang dan menyayangi aku. aamiin.
Aku buka mata. Danu yang pertama kali aku lihat. Entah kenapa wajahnya begitu pucat kulihat.
“Terima kasih teman-teman, atas kejutan malam ini. Aku bahagia sekali. Aku ingin masing-masing dari kalian mengucapkan sesuatu padaku. Apapun itu. boleh kritik saran, kesan pesan atau apa lah…” ucapku di tengah keramaian malam tahun baru.
Semuanya setuju, Ina memulai sebelum yang lainnya.
“Ta, sejak SMP kita berteman. Sampai sekarang ketika kau dan aku sama-sama kuliah di satu kampus yang sama pula, aku tak pernah melihatmu menangis. Kau selalu memaafkan aku ketika ku berbuat salah padamu. Kau selalu membantuku ketika aku membutuhkan uluranmu. You are the best,ta! Ku berdoa semoga apa yang kau doakan terkabul…” Ina menyudahi perkataannya dengan mengusap butiran kecil di wajahnya.
“Ta, meski aku baru kenal kamu di kampus beberapa tahun terakhir, sudah banyak kenanganmu bersamaku. Kau selalu membawaku mengenal hal baru. Kau selalu mendorongku untuk tegas dalam mengambil keputusan. Kau yang mengajarkanku arti dari sebuah persahabatan…bahagia selalu untukmu,ta…” ucap Yeni.
“Hm…apa ya… Tita… seorang cerewet, bawel seperti nenekku. Tapi dia selalu sabar mengajariku. Ketika aku kesulitan dalam belajar, kau selalu muncul menjadi pahlawanku….”
Semua terbahak mendengar gurauan Agung, kecuali aku. yah, menahan tawa sedikit meski ingin marah juga. Sekarang tiba saatnya Danu memberikan ucapannya padaku. Tapi apa ini? Dia pergi. Menghilang entah kemana.
“Mengapa Danu pergi pas gilirannya?” aku bertanya pada teman-teman.
Ketiganya saling menatap. Ina, Yeni dan Agung saling menatap bingung. Mereka seperti bingung dengan perkataanku.
“Kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaanku? Danu kemana sih? Agung! Ayo cari Danu!” aku terus nyerocos.
“Ta, kamu nggak mimpi kan?” tanya Ina.
“mimpi apa? Tadi Danu disini bersama kita, kenapa tiba-tiba dia pergi? Huh! Orang Aneh!”
“Ta! Sadar ta! Danu udah meninggal!” Ina mengguncangkan tubuhku keras.
“Siapa yang meninggal? Danu? Nggak ah! Tadi dia disini na!”
Hening. Semuanya terdiam. Aku pun terdiam. Seketika aku tersadar,aku lunglai terduduk. Menangis sejadi-jadinya. Ina memelukku erat. Menguatkanku.
“Kenapa secepat ini, na! kenapa?” lirihku sembari menahan sesak tangisku di dada.
Keceriaan sontak berubah menjadi kepedihan. Semua kembali teringat dengan Danu. Sebulan yang lalu ia mengalami kecelakaan. Malam itu, setelah ia menyuruh Agung mengantarku pulang, ia menunggu angkot lewat. Menurut saksi kejadian dia menolong seorang kakek menyebrang jalan, namun tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dan menabrak Danu dengan cepat. Kakek itu selamat, Danu melindungi dengan tubuhnya sehingga sang kakek hanya mengalami luka ringan. Itu yang terakhir Agung katakan kepadaku.  Aku tak percaya! Dan mengapa aku menjadi sesakit ini! Sesedih ini! Oh!
“Ta….” Agung memanggilku pelan.
“Ini semua koleksi Danu. Meski dia tak berharap kau tahu secepat ini, dan memiliki ini. Tapi kupikir apalagi yang harus di tutup-tutupi.” Agung berucap parau sambil meletakkan sebuah buku di atas pangkuanku.
Pelan kubuka, lembar demi lembar. Oh! Itu semua fotoku! Dia mencuri fotoku! Ada beberapa yang bertuliskan sesuatu.
Aku tahu kau sedang marah, wajahmu sangat lucu. Aku tak mau kau jadi sepertiku ta, jadi pemarah. Tenanglah… jika kau marah semua takkan menjadi baik. Itu tak baik untukmu.”
“Ta… maafkan jika aku menyakitimu. Acuh padamu. Semata karena ku ingin menjagamu dengan caraku. Ingin mencintaimu dalam diamku. ”
Tangisku bertambah. Mengapa ia selalu diam? Setidaknya mengapa tak beritahu aku? dia siksa aku dengan perasaan ini!
Tapi terima kasih telah menjagaku selama ini.
***
Tahun baru menyisakan tangis buatku. 2 tahun terakhir, tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, akan selalu menjadi kenangan manis buatku, ia selalu datang meski hanya tersenyum dalam mimpi, wajah dingin itu, tajam mata itu, tahukah kamu aku rindu. Kini aku hanya mampu menyimpannya dalam diary kenanganku. Akan kukenang dan kutata rapi di hatiku.


Jakarta,
Kamis, 29 Desember 2011
11.47 WIB

0 komentar:

Posting Komentar

 
;