Jalani saja.
itulah cara yang paling tepat untuk berjalan di bumi Nya.
Menjalani kehidupan ini apa adanya,
seperti air yang mengalir.
karena itulah yang seringkali kita lewatkan.
'kalau mengalir seperti air, gimana kalo ujungnya di comberan?'
ketahuilah, bahwa kata jalani saja bukanlah kata yang melarang kita untuk berusaha.
kata itu bermakna bahwa kehidupan adalah sebuah lautan luas yang harus kita arungi
dengan bahtera kita,
jalani saja
bukan berarti bahwa kita membiarkan bahtera kita lontang lantung tanpa tujuan
tidak.
jalani saja itu
berarti, cobalah untuk menerima dan tidak berhenti untuk berusaha,
ketika ada hal yang belum kita dapatkan, ya jangan terlalu dipikirkan.
jalani saja.
sambil kita terus menikmati proses menuju tujuan kita.
sambil kita terus berusaha tak berhenti dalam menjalani hidup ini.
sambil berdoa dan yakin bahwa pasti ada jalan yang akan Dia berikan.
jalani saja.
karena kau hanya manusia.
rencanamu tak 100% kan jadi nyata,
kenyataan adalah goresan takdir Sang Pencipta
maka, jalani saja.
tak perlu kau berkecil hati apalagi putus harapan
tak perlu kau membandingkan dirimu dengan pencapaian orang
tetaplah berjalan dan tersenyum menyambut masa depan.
jangan kau terpuruk dengan keadaan.
jalani saja
karena setiap takdir Tuhan itu indah.
itu jika kau percaya.
kalau tidak.
maka apa yang kau pikirkan itulah yang akan menjadi kenyataan,
karena Tuhanmu sesuai dengan prasangkamu.
so...
aku tak mau banyak berkata.
mungkin ini adalah sebuah pengingat bagi hati saja.
pengingat bagimu
juga diriku sendiri.
#fa
karena dia bukanlah milikku,
dan selamanya takkan pernah jadi milikku,
aku harus paksa diriku
untuk berhenti menyayanginya.
aku harus mampu mencoba
menghilangkan semua pengharapan yang ada di dada.
karena dia bukan milikku,
aku tak pernah berani untuk berusaha,
berusaha untuk tetap bertahan dalam kebekuan
menatap sayu apa yang ada di hadapan
aku hanya perlu untuk belajar.
belajar melupakan.
melupakan apa yang memang
seharusnya aku lupakan.
tentang dia yang jauh dari pandangan,
tentang dia yang hanya ada dalam khayal.
tentang dia yang selalu mampu membuatku bimbang.
aku menyerah.
menyerah untuk bertahan.
aku pasrah.
untuk berusaha memperoleh kepastian.
kepastian itu.
yang sebenarnya sudah sangat jelas.
bahwa aku tak boleh lagi mengharapkan.
mengharapkan yang tak pernah ada dalam genggaman.
siapapun dia.
dia ataupun dia.
tak kan pernah ada lagi dalam hidupku.
sebagai seorang yang istimewa lagi.
kini aku hanya bisa menyebutnya
sebagai teman biasa.
yang tak berbeda dengan lainnya.
aku hanya ingin tersenyum
memandangnya dari kejauhan.
meski perih.
aku harus mampu untuk menahan.
meski sakit
aku berusaha agar dia tak tahu bahwa aku sakit.
#fa
dan selamanya takkan pernah jadi milikku,
aku harus paksa diriku
untuk berhenti menyayanginya.
aku harus mampu mencoba
menghilangkan semua pengharapan yang ada di dada.
karena dia bukan milikku,
aku tak pernah berani untuk berusaha,
berusaha untuk tetap bertahan dalam kebekuan
menatap sayu apa yang ada di hadapan
aku hanya perlu untuk belajar.
belajar melupakan.
melupakan apa yang memang
seharusnya aku lupakan.
tentang dia yang jauh dari pandangan,
tentang dia yang hanya ada dalam khayal.
tentang dia yang selalu mampu membuatku bimbang.
aku menyerah.
menyerah untuk bertahan.
aku pasrah.
untuk berusaha memperoleh kepastian.
kepastian itu.
yang sebenarnya sudah sangat jelas.
bahwa aku tak boleh lagi mengharapkan.
mengharapkan yang tak pernah ada dalam genggaman.
siapapun dia.
dia ataupun dia.
tak kan pernah ada lagi dalam hidupku.
sebagai seorang yang istimewa lagi.
kini aku hanya bisa menyebutnya
sebagai teman biasa.
yang tak berbeda dengan lainnya.
aku hanya ingin tersenyum
memandangnya dari kejauhan.
meski perih.
aku harus mampu untuk menahan.
meski sakit
aku berusaha agar dia tak tahu bahwa aku sakit.
#fa
Untuk apa menulis yang tak kau sukai.
Menulis adalah seni. Seni mengungkapkan apa yang ada di
hati, dan pikiranmu sendiri. Menulis tak bisa dilakukan dalam keadaan yang
terpaksa. Mm... tapi sebenarnya bisa saja. Menulis saat tak ada keinginan untuk
menulis. Banyak sih... banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari menulis.
Tapi aku, aku tak ingin menggantungkan hidupku pada menulis. Karena menulis
bukanlah alat yang cocok untuk mendapatkan sebuah komisi. Ketika menulis tlah
menjadi satu pekerjaan rutin yang mempunyai deadline hari, percayalah, bahwa
suatu saat kau akan menemui kejenuhan bahkan stress yang sangat dalam menjalani
hidup ini.
Ya, karena aku memang bukan seorang penulis mungkin gampang
saja untuk mengatakan itu. Tapi tak jarang pula penulis yang memilih menulis
untuk dirinya sendiri, sesuai dengan yang disukainya, sesuai dengan ide dan
gagasannya, sesuai dengan tujuannya, mereka berdiri dengan kaki mereka sendiri.
Bukan orang lain yang mendeadline mereka tuk menulis, tapi mereka sendirilah
yang membuat deadline mereka sendiri. Tak stress... ? akupun sebenarnya tak
tahu, tapi ketika kau menulis dengan deadline mu sendiri, dengan hati yang
tenang, dengan tujuan jelas namun kita bisa menikmati kegiatan menulis itu
sendiri. Sebenarnya itulah kepuasan sendiri.
Apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan?
Bukan apa apa. Tak penting mungkin juga.
Ini hanya sekedar untuk memotivasi diriku sendiri yang telah
lama vakum dari kegiatan menulis. Tanganku sudah lama tak memiliki kemampuan
untuk menuliskan apa yang sedang aku pikirkan.
Terlalu banyak hal yang sudah aku lewatkan dengan tidak menuliskannya.
Banyak hal. Mungkin juga terlalu banyak pikiran buruk yang sedang merasuk dalam
hati dan otakku. Sehingga aku tak mampu menyibak satu per satu detail
peristiwa, hikmah dari setiap langkah yang ku jejakkan di bumi ini.
Aku butuh motivasi menulis lagi...:(
sekali ini saja.
jangan pikirkan tentang kegagalan, kesuksesan
sekali ini saja,
jangan mencari alasan untuk menunda pekerjaan
sekali ini saja,
lakukanlah apa yang seharusnya kau lakukan.
sekali ini saja,
jangan malas.
sekali ini saja
tersenyum dan katakan bisa pada semua beban
sekali ini saja
yakinlah...bahwa kau bisa.
sekali ini saja
jangan bermain main dengan tanggung jawabmu
sekali ini saja
nikmati pekerjaanmu...
sekali ini saja
jangan mengeluh
sekali ini saja
bersyukur karena kau masih punya pekerjaan.
sekali ini saja
lihatlah dirimu, lihat kelebihanmu,
lalu lihat kekuranganmu
sekali ini saja
semangatlah....
lihat ke depan,,,
jangan terpengaruh pada keadaan,
jangan terpengaruh pada pencapaian orang.
jangan iri.
percayalah pada diri sendiri.
ingat...
masih banyak hal yang kau lewatkan
hanya dengan kau meratapi dan mengeluh dengan semua ini
kau lupa akan Rabbmu
yang telah memberi banyak nikmat kepadamu
bahkan,,
orang lain ingin seperti dirimu...
banggalah...
lalu ukirlah prestasimu
bahagialah...
tak ada yang bisa membuatmu bahagia
selain dirimu sendiri...
Tenanglah, karena semua kan baik-baik saja.
Percaya!
Fa
jangan pikirkan tentang kegagalan, kesuksesan
sekali ini saja,
jangan mencari alasan untuk menunda pekerjaan
sekali ini saja,
lakukanlah apa yang seharusnya kau lakukan.
sekali ini saja,
jangan malas.
sekali ini saja
tersenyum dan katakan bisa pada semua beban
sekali ini saja
yakinlah...bahwa kau bisa.
sekali ini saja
jangan bermain main dengan tanggung jawabmu
sekali ini saja
nikmati pekerjaanmu...
sekali ini saja
jangan mengeluh
sekali ini saja
bersyukur karena kau masih punya pekerjaan.
sekali ini saja
lihatlah dirimu, lihat kelebihanmu,
lalu lihat kekuranganmu
sekali ini saja
semangatlah....
lihat ke depan,,,
jangan terpengaruh pada keadaan,
jangan terpengaruh pada pencapaian orang.
jangan iri.
percayalah pada diri sendiri.
ingat...
masih banyak hal yang kau lewatkan
hanya dengan kau meratapi dan mengeluh dengan semua ini
kau lupa akan Rabbmu
yang telah memberi banyak nikmat kepadamu
bahkan,,
orang lain ingin seperti dirimu...
banggalah...
lalu ukirlah prestasimu
bahagialah...
tak ada yang bisa membuatmu bahagia
selain dirimu sendiri...
Tenanglah, karena semua kan baik-baik saja.
Percaya!
Fa
aku.
yang aku tahu ya memang diriku.
entah ini dibuat-buat atau tidak, inilah diriku.
entah ini akulah yang sebenarnya atau hanya pura-pura
akupun tak tahu. tak mampu membedakan itu.
yang aku tahu, seringkali aku kehilangan jati diriku,
sering aku bertanya, aku yang sesungguhnya seperti apa?
apakah memang seperti ini, atau karena ini adalah sebuah pengaruh
atau bahkan tuntutan dari lingkungan?
I don't know.
#Edisi Galau
yang aku tahu ya memang diriku.
entah ini dibuat-buat atau tidak, inilah diriku.
entah ini akulah yang sebenarnya atau hanya pura-pura
akupun tak tahu. tak mampu membedakan itu.
yang aku tahu, seringkali aku kehilangan jati diriku,
sering aku bertanya, aku yang sesungguhnya seperti apa?
apakah memang seperti ini, atau karena ini adalah sebuah pengaruh
atau bahkan tuntutan dari lingkungan?
I don't know.
#Edisi Galau
Manusia diciptakan dengan takdirnya masing-masing. Tak perlu menjadi bahan perbandingan yang terkadang membuat sebuah pemikiran tentang ketidakadilan. Karena pada hakikatnya, itulah yang dinamakan sebuah keadilan.
Entah menjadi sebuah pertanyaan atau sebuah jawaban, jika diri kita mampu memahami bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini adalah sebuah takdir Tuhan (baca: Allah).
mungkin takkan lagi ada pikiran macam-macam. hidup ini akan dibawa dengan ringan, sangat ringan.
Terkadang diri masih tak yakin dengan Tuhan. Mungkin bibir memang mengatakan bahwa aku yakin bahwa Tuhan Maha Penolong, bahwa Tuhan Maha Besar, bahwa Tuhan adalah penentu semua hal, bahwa semuanya sudah tertulis dalam Lauh mahfudz Nya. tapi pada kenyataaannya, dengan segala bentuk permasalahan yang muncul di depan manusia, manusia tak mampu untuk mengaplikasikan kata-katanya. mereka sering tak sadar menyalahkan Tuhan dengan apa yang terjadi dengan diri mereka. Tak jarang mereka tak memperhatikan bahwa mungkin semua yang terjadi padanya adalah sebuah ujian, atau mungkin sebuah cobaan, atau jangan-jangan malah sebuah hukuman. Tapi kembali lagi bahwa semua yang terjadi di dunia tak lepas dari Tangan Nya. Jika ternyata banyak hal yang terasa berat dibawa, kita harus berpikir jangan-jangan ada yang memang salah dengan pikiran kita. Apakah kita yang terlalu mendramatisir masalah, mengeluhkan masalah tanpa ada kemauan untuk mencari jalan keluarnya, ataukah memang benar-benar sudah tidak ada jalan untuk permasalahan itu.
jangan-jangan kita terlalu manja dengan Tuhan, tapi Tuhan ingin kita mampu mandiri dan meningkat derajatnya dengan memberikan ujian yang sulit bahkan sangat sulit bagi kita. Bagi seorang guru, murid yang pintar adalah murid yang mampu mengerjakan soal-soal yang sulit. Murid yang mengerjakan soal yang biasa-biasa saja bahkan mudah, Guru tak akan memandangnya istimewa. mungkin itu bisa menjadi analogi untuk menggambarkan Tuhan dengan kita.
Pada intinya aku ingin mengatakan La Tahzan.
Please, jangan bersedih.
ini semua bukanlah akhir segalanya. masih banyak hal yang mampu kita lakukan. kita hanya harus berusaha yang terbaik semampu yang kita bisa. ketika ada orang lain yang mungkin memandang sebelah mata, atau mungkin membandingkan hasil yang kau lakukan tak berguna, mungkin itu sebuah cambuk baru bagimu untuk meningkatkan kualitas dirimu. Yang benar, jangan pernah iri dengan pencapaian orang lain, jangan pernah marah dengan apa yang orang lain raih, tapi jadikan itu sebuah cermin yang mampu merefleksikan diri kita agar lebih baik.
Oke?
jadi, semangatlah dalam semua hal. Tenangkan dirimu, hatimu, pikiranmu. Jadikan hari-hari yang seiring waktu kan berlalu ini dengan karya-karyamu, dengan semua hal baik yang mampu kau kerjakan. Tersenyumlah, di dalam kegetiran sekalipun. karena dengan senyum, mungkin beban itu akan sedikit berkurang.
Salam Smangat !
Fa_
Entah menjadi sebuah pertanyaan atau sebuah jawaban, jika diri kita mampu memahami bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini adalah sebuah takdir Tuhan (baca: Allah).
mungkin takkan lagi ada pikiran macam-macam. hidup ini akan dibawa dengan ringan, sangat ringan.
Terkadang diri masih tak yakin dengan Tuhan. Mungkin bibir memang mengatakan bahwa aku yakin bahwa Tuhan Maha Penolong, bahwa Tuhan Maha Besar, bahwa Tuhan adalah penentu semua hal, bahwa semuanya sudah tertulis dalam Lauh mahfudz Nya. tapi pada kenyataaannya, dengan segala bentuk permasalahan yang muncul di depan manusia, manusia tak mampu untuk mengaplikasikan kata-katanya. mereka sering tak sadar menyalahkan Tuhan dengan apa yang terjadi dengan diri mereka. Tak jarang mereka tak memperhatikan bahwa mungkin semua yang terjadi padanya adalah sebuah ujian, atau mungkin sebuah cobaan, atau jangan-jangan malah sebuah hukuman. Tapi kembali lagi bahwa semua yang terjadi di dunia tak lepas dari Tangan Nya. Jika ternyata banyak hal yang terasa berat dibawa, kita harus berpikir jangan-jangan ada yang memang salah dengan pikiran kita. Apakah kita yang terlalu mendramatisir masalah, mengeluhkan masalah tanpa ada kemauan untuk mencari jalan keluarnya, ataukah memang benar-benar sudah tidak ada jalan untuk permasalahan itu.
jangan-jangan kita terlalu manja dengan Tuhan, tapi Tuhan ingin kita mampu mandiri dan meningkat derajatnya dengan memberikan ujian yang sulit bahkan sangat sulit bagi kita. Bagi seorang guru, murid yang pintar adalah murid yang mampu mengerjakan soal-soal yang sulit. Murid yang mengerjakan soal yang biasa-biasa saja bahkan mudah, Guru tak akan memandangnya istimewa. mungkin itu bisa menjadi analogi untuk menggambarkan Tuhan dengan kita.
Pada intinya aku ingin mengatakan La Tahzan.
Please, jangan bersedih.
ini semua bukanlah akhir segalanya. masih banyak hal yang mampu kita lakukan. kita hanya harus berusaha yang terbaik semampu yang kita bisa. ketika ada orang lain yang mungkin memandang sebelah mata, atau mungkin membandingkan hasil yang kau lakukan tak berguna, mungkin itu sebuah cambuk baru bagimu untuk meningkatkan kualitas dirimu. Yang benar, jangan pernah iri dengan pencapaian orang lain, jangan pernah marah dengan apa yang orang lain raih, tapi jadikan itu sebuah cermin yang mampu merefleksikan diri kita agar lebih baik.
Oke?
jadi, semangatlah dalam semua hal. Tenangkan dirimu, hatimu, pikiranmu. Jadikan hari-hari yang seiring waktu kan berlalu ini dengan karya-karyamu, dengan semua hal baik yang mampu kau kerjakan. Tersenyumlah, di dalam kegetiran sekalipun. karena dengan senyum, mungkin beban itu akan sedikit berkurang.
Salam Smangat !
Fa_
terkadang aku mengatakan bahwa diriku baik.
tapi, kudapati bahwa seringkali banyak orang yang ternyata terluka karenaku.
terkadang aku menduga bahwa aku seringkali membuat orang menjadi marah, menjadi tak suka
tapi, seringkali pikiran itu ku simpan dan aku sendiri yang mengambil kesimpulan, tak pernah kuungkapkan.
seringkali aku mengira bahwa orang lain tak memperhatikanku, orang lain acuh padaku
tapi, sebagian besar pikiran negatif itu adalah pikiran alam bawah sadarku.
aku tak tahu. pada kenyataannya apakah benar semua pikiranku itu.
apakah sama pikiranku dengan orang-orang di sekelilingku.
sering semua ini membuatku terbebani. bukan karena aku yang tak mampu membuat semua orang suka padaku
tapi seringkali aku sendiri yang menganggap mereka menjauh dariku.
sering aku tanpa sadar menjudge diri sendiri tak benar, sering menuntut yang lebih dari
apa yang bisa aku lakukan.
seringkali berpikir sesuatu yang tak seharusnya dipikirkan.
aku berpikir ada yang salah dengan diriku, dengan pikiranku.
tak tenang, berpikir negatif terus dengan masa depan, dengan apa yang sedang aku lakukan.
pesimis dengan semua hal.
ku merasa apa yang aku lakukan itu tak pernah benar, tak pernah selesai dengan baik.
apa yang sebenarnya salah?
aku tak tahu.
pikiranku kah?
tindakanku kah?
aku pun tak mengerti itu.
menjadi sebuah pertanyaan besar bagiku bahwa sesungguhnya apa yang sedang aku pikirkan,
sebenarnnya apa yang sedang aku lakukan.
sebenarnya apa yang menjadi tujuan.
saat-saat tertentu aku mampu menekan semua pikiran itu,
namun pada saat aku tak mampu menekannya,
aku menjadi sangat terpuruk akan semua itu.
pada akhirnya, sebenarnya aku tahu dengan diriku, kelemahanku
namun, aku masih tak tahu bagaimana untuk memperbaiki itu.
menggali. mungkin aku harus banyak menggali diri.
di samping itu, mungkin aku harus mampu untuk mengendalikan diri dan pikiranku
mengendalikan hatiku.
ya, semua bermuara pada hati.
ketika hati mampu untuk tenang dan tertanam sebuah keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja
ketika itu pula semua hal akan terasa ringan.
ini tak berat.
ya, beban ini ringan
karena Allah menjanjikan itu
setelah kesulitan pasti ada kemudahan
dengan catatan : Allah takkan mengubah nasib suatu kaum,
sebelum dia mampu berusaha mengubah dirinya sendiri.
#edisi galau
tapi, kudapati bahwa seringkali banyak orang yang ternyata terluka karenaku.
terkadang aku menduga bahwa aku seringkali membuat orang menjadi marah, menjadi tak suka
tapi, seringkali pikiran itu ku simpan dan aku sendiri yang mengambil kesimpulan, tak pernah kuungkapkan.
seringkali aku mengira bahwa orang lain tak memperhatikanku, orang lain acuh padaku
tapi, sebagian besar pikiran negatif itu adalah pikiran alam bawah sadarku.
aku tak tahu. pada kenyataannya apakah benar semua pikiranku itu.
apakah sama pikiranku dengan orang-orang di sekelilingku.
sering semua ini membuatku terbebani. bukan karena aku yang tak mampu membuat semua orang suka padaku
tapi seringkali aku sendiri yang menganggap mereka menjauh dariku.
sering aku tanpa sadar menjudge diri sendiri tak benar, sering menuntut yang lebih dari
apa yang bisa aku lakukan.
seringkali berpikir sesuatu yang tak seharusnya dipikirkan.
aku berpikir ada yang salah dengan diriku, dengan pikiranku.
tak tenang, berpikir negatif terus dengan masa depan, dengan apa yang sedang aku lakukan.
pesimis dengan semua hal.
ku merasa apa yang aku lakukan itu tak pernah benar, tak pernah selesai dengan baik.
apa yang sebenarnya salah?
aku tak tahu.
pikiranku kah?
tindakanku kah?
aku pun tak mengerti itu.
menjadi sebuah pertanyaan besar bagiku bahwa sesungguhnya apa yang sedang aku pikirkan,
sebenarnnya apa yang sedang aku lakukan.
sebenarnya apa yang menjadi tujuan.
saat-saat tertentu aku mampu menekan semua pikiran itu,
namun pada saat aku tak mampu menekannya,
aku menjadi sangat terpuruk akan semua itu.
pada akhirnya, sebenarnya aku tahu dengan diriku, kelemahanku
namun, aku masih tak tahu bagaimana untuk memperbaiki itu.
menggali. mungkin aku harus banyak menggali diri.
di samping itu, mungkin aku harus mampu untuk mengendalikan diri dan pikiranku
mengendalikan hatiku.
ya, semua bermuara pada hati.
ketika hati mampu untuk tenang dan tertanam sebuah keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja
ketika itu pula semua hal akan terasa ringan.
ini tak berat.
ya, beban ini ringan
karena Allah menjanjikan itu
setelah kesulitan pasti ada kemudahan
dengan catatan : Allah takkan mengubah nasib suatu kaum,
sebelum dia mampu berusaha mengubah dirinya sendiri.
#edisi galau
Langganan:
Postingan (Atom)



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact